Mahasiswa IPB University Raih Juara 2 Inovasi Pupuk Ramah Lingkungan

Mahasiswa IPB University Raih Juara 2 Inovasi Pupuk Ramah Lingkungan

Dua Mahasiswa IPB University berhasil meraih Juara 2 Kategori Innovation in Fertilizer Production System dalam ajang Fert Innovation Challenge 2021. Mereka adalah Afrinal Firmanda dan Syifa Robbani, mahasiswa IPB University dari Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta). Kedua mahasiswa IPB University tersebut dibimbing oleh Dr Farah Fahma.

Fert Innovation Challenge merupakan kompetisi inovasi di bidang pertanian yang diselenggarakan oleh PT Pupuk Indonesia bekerjasama dengan Indonesian Fertilizer Research Institute (IFRI). Kompetisi ini terbuka untuk umum dan dapat diikuti oleh mahasiswa aktif jenjang S1, S2, dan S3 seluruh Indonesia.

Dalam kompetisi ini, Afrinal Firmanda dan Syifa Robbani merancang karya yang berjudul Pengembangan Urea Slow Release Green Fertilizer Berbasis Komposit Nanoselulosa dan Polimer Biodegradable.

Menurut Syifa, dunia pertanian saat ini mengalami trilema yang kompleks, yaitu tantangan ketahanan pangan, tantangan keberlanjutan lingkungan, dan tantangan kesejahteraan petani. Oleh karena itu, Syifa dan Afrinal melahirkan inovasi pupuk urea laju lambat yang ramah lingkungan (eco-friendly) dan berkelanjutan (sustainability). Inovasi ini sekaligus dapat mengatasi permasalahan efisiensi pupuk.

“Permasalahan efisiensi pupuk akan berimplikasi terhadap biaya dan pencemaran lingkungan,” kata Syifa.  Ia menerangkan, aplikasi pupuk N yang mudah larut pada tanah berpasir dapat mengakibatkan pencucian NO3-N sehingga dapat merusak kualitas air tanah. Tidak hanya itu, hilangnya urea melalui penguapan dan pencucian juga berdampak terhadap pengurangan efisiensi penggunaan nitrogen oleh tanaman. Kondisi tersebut dapat membatasi hasil panen, produksi emisi gas berbahaya, dan eutrofikasi air.

Syifa menambahkan, bahwa urea dengan pelepasan terkontrol tidak hanya mengurangi kehilangan nitrogen, tetapi juga mengubah kinetika pelepasan nitrogen untuk menyediakan nutrisi tanaman dengan kecepatan yang sesuai kebutuhan metabolisme tanaman.

“Urea slow release green fertilizer ini diproduksi dengan mencangkokkan urea ke dalam matriks polimer biodegradale (nanoselulosa, pati, alginat) berdasarkan metode pencampuran dan imersi menggunakan agen pengikat silang CaCl2 dan atau surfaktan,” jelas Syifa.

Mahasiswa IPB University itu melanjutkan, inovasi pupuk ini diharapkan dapat mengurangi masalah efisiensi pupuk yang buruk, yaitu sekitar 40 sampai 70 persen pupuk urea yang hilang ke lingkungan sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan dan masalah biaya. Pupuk ini juga menggunakan teknologi nanoselulosa yang merupakan sumberdaya alam yang melimpah, terbarukan, biodegradable, dan memiliki prospek untuk jangka panjang.

Pupuk ini masih akan dikembangkan melalui penelitian dalam skala laboratorium serta pengkajian lebih lanjut oleh PT Pupuk Indonesia. Kompetisi ini juga melibatkan panel ahli (expert panel) yang terdiri dari Top Management Pupuk Indonesia, akademisi, dan praktisi berpengalaman. Turut serta pula Prof Kudang Boro Seminar dari Fakultas Teknologi Pertanian IPB University. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *